MENGGAGAS SPIRITUALISME
BISNIS
Fenomena menarik yang akhir-akhir ini kita saksikan
bersama adalah gairah para eksekutif bisnis untuk
mengkaji nilai-nilai agama. Tempat-tempat ibadah
dipenuhi para eksekutif. Kantor-kantor – tak peduli kantor
perusahaan lokal maupun multi nasional – membuka diri bagi
eksekutifnya untuk mengembangkan dan mendiskusikan ajaran
agama. Malah tidak sedikit para eksekutif menjadi aktivis
‘gerakan-gerakan’ ritual agama yang kini menjadi trend kembali,
seperti tassawuf, sufi, karismatik atau bahkan New Age.
Maraknya para eksekutif kembali kepada ritual-ritual agama
harus dipahami sebagai sebuah ekpresi kerinduan mereka
untuk mengintegrasikan nilai-nilai etis, moral dan spiritual ke
dalam lingkungan bisnisnya yang cenderung sekuler, kering
dan materialistik. Memang pendapat minor mengemuka bahwa
eksekutif mendalami ritual agama hanya sekedar topeng –
terbukti dengan maraknya korupsi, manipulasi dan kolusi di
negeri ini – memang tidak seluruhnya dapat ditepis. Pertumbuhan
tempat ibadah yang ekuivalen dengan pertumbuhan aktivitas
korupsi, tak pelak menjadi ironi tersendiri di tengah keinginan
untuk memperbaiki moral warga negara.
Terlepas dari hukum paradoksal tersebut, gairah para eksekutif
untuk mempelajari nilai-nilai agama patut untuk dicermati.
Ada dua pertanyaan yang muncul untuk mengkritisi fenomena
ini. Apakah gairah tersebut cenderung sekedar mengikuti trend
yang kelak sakan hilang sendiri seperti trend dunia mode yang
silih berganti? Atau lantaran para eksekutif muak melihat praktek
bisnis di tanah air yang salama ini pekat dengan aroma KKN
dan mereka ingin memasukkan unsur-unsur etika dalam
berbisnis? Kalau yang muncul kepermukaan adalah pertanyaan
pertama, maka pendapat minor tentang budaya topeng seperti
tertulis di atas mendapat legitimasi. Sementara bila yang
mencuat alasan kedua, maka kita patut bersyukur. Para eksekutif
yang diyakini sebagai agen perubahan, menjadi motivator
untuk menciptakan good corporate governance.
Spiritualitas dan Bisnis
Untuk sementara gairah eksekutif mendalami ritual agama
kita pahami sebagai minat para eksekutif untuk mengembangkan
bisnis yang berbasis moral dan profesional. Setelah lama
dikungkung oleh budaya kerja yang menjauhkan diri dari nilainilai
profesional, para eksekutif mulai membangun diri
pribadinya dengan nuansa spiritual yang kelak mewarnai
bisnis yang digelutinya. Dalam wacana kekinian, etos baru
eksekutif ini disebut sebagai spiritualitas bisnis.
Spiritualitas bisnis, seperti dari namanya, dibangun dari
dua buah kata; spiritualitas dan bisnis. Spiritualitas sendiri
menurut kamus Webster artinya attachment to religious values
atau dapat pula berarti the state of being spiritual. Dalam
komunitas kami di Institut Darma Mahardika, spiritualitas kami
artikan sebagai rangkaian proses transendensi kehidupan
hingga lebih berkarakter spiritual.
Berkarakter spiritual artinya mampu mentrensendensikan
materi. Nilai-nilai materi sudah melampui batas-batas normal
menjadi nilai-nilai yang berkualitas non materi (spiritual) tanpa
harus kehilangan karakter materinya. Jadi dalam konteks ini,
karakter spiritual tidak menentang atau mengharamkan materi.
Materi tetap diperlukan. Hanya saja materi tidak terbatas pada
wujudnya, namun sudah bermain dalam tataran nilai spiritual,
keadilan, dan kegunaan.
Transendensi yang artinya melampui batas-batas normal
atau melampui pengetahuan biasa, memang menjadi kata
kunci dari spiritualitas. Orang-orang yang memiliki spiritualitas
dengan demikian orang-orang yang sudah mampu melakukan
transendensi (pelampuan) terhadap batas-batas materi, ruang,
waktu, lokalitas, pengetahuan dan pengalaman yang serba
biasa, tanpa harus kehilangan karakter ‘biasa-nya’ itu. Dalam
kaitan ini maka spiritualitas sekaligus mengandung makna
menuju pada integrasi (kepaduan) dan holisme (keutuhan).
Juga boleh dikatakan lawan dari spiritualitas adalah
reduksionisme dan sektarianisme.
Spiritualitas bisnis dengan demikian merupakan proses
transendensi untuk membentuk lembaga bisnis melampui
pengertian bisnis sendiri seperti yang selama ini dipahami.
Spiritualitas bisnis tidak melulu berbicara tentang profit,
transaksi, manajemen, akunting dan strategi, namun juga
mempersoalkan pelayanan, pengembangan, tanggung jawab
sosial, lingkungan hidup dan keadilan. Spiritualitas tidak lagi
terkungkung oleh aturan-aturan formal yang malah memberi
pelung untuk berbuat curang, namun bermain dengan aturanaturan
moral, etika, dan kemanusian yang bermuara pada
keadilan dan kejujuran. Dengan pengertian ini, utopiakah
spiritualitas bisnis? Atau jangan-jangan spiritualitas bisnis
merupakan konsep yang cuma enak diomongkan di ruang
seminar sementara untuk beroperasi di lapangan kedodoran?
Menarik untuk disimak corporate culture yang di
kembangkan oleh perusahaan Electronic Elite. Dalam Wisdom
of the Electronic Elite dijelaskan bahwa dewasa ini terjadi
pemahaman-pemahaman yang meluas (baca : transendensi)
dalam dunia bisnis sebgai berikut :
1. Bisnis adalah ekosistem; bukan medan perang
2. Perusahaan adalah komunitas; bukan mesin
3. Manajemen adalah pelayanan; bukan kontrol
USAHAWAN NO. 08 TH XXX AGUSTUS 2001 35
4. Manajer adalah coach; bukan mandor
5. Karyawan adalah sejawat; bukan pembantu
6. Motivasi datang dari visi; bukan rasa takut
7. Perubahan adalah pertumbuhan; bukan penderitaan.
Memperhatikan corporate culture Electronic Elite, sudah
pantas kalau kita menyebut perusahaan ini menjalankan
spiritualitas bisnis. Corporate culture ini sekaligus contoh
‘duniawi’ menjadi ‘spiritual’ Coba kita simak corporate culture
yang pertama, bisnis adalah ekosistem; bukan medan perang.
Selama ini yang kita pahami dan kebetulan didukung oleh
literatur-literatur, bisnis dikenali sebagai medan perang.
Berbisnis artinya berperang. Dengan logika ini mnejadi wajar
bila persaingan sebagai bentuk peperangan yang mana
perusahaan satu harus membunuh perusahaan lain. Medan
perang tidak kenal moral (a moral). Segala sesuatu boleh
dilakukan. Ketika kompetisis bisnis berubah menjadi medan
perang, akhirnya segala cara dipergunakan. Akibatnya pelaku
bisnis kecil terlindas pebisnis besar, konsumen dirugikan dan
alam dirusak tanpa ampun.
Sebaliknya akan terjadi bila bisnis dipahami sebagai
ekosistem. Di dalam ekosistem tidak ada yang menindas dan
yang tertindas. Yang besar tidak memangsa yang kecil. Semua
saling membutuhkan dan melengkapi. Keberlanjutan dan
keseimbangan menjadi prioritas. Ketika bisnis dipahami
sebagai ekosistem, yang terjadi adalah keseimbangan antara
pebisnis besar dan pebisnis kecil. Lembaga bisnis merupakan
bagian dari masyarakat yang tidak bisa melepaskan diri dari
masyarakat. Stakeholders, yaitu pemerintah, konsumen,
pemegang saham, manajemen dan karyawan saling terkait
secara interdependen dan sinergik.
Corporate culture yang dimiliki Electronic Elite layak bila
kita sebut sebagai paradigma baru dunia bisnis. Paradigma
baru ini memang kental dengan nuansa spiritual. Namun itulah
kenyataan yang tidak bisa kita elakkan. Studi Prof. Collin dan
Prof. Porras melalui buku spektakulernya ‘Built to Last’
menyebutkan perusahaan-perusahaan yang berumur puluhan
tahun dan sampai detik ini menjadi market leader penuh
nuansa spiritual di dalam visi, misi, maupun core value-nya.
Seperti misal core value General Electric “Improving the quality
of life through technology and innovation.” Merck “We are in the
business of preserving and improving human life” Procter &
Gamble “Honesty and fairness.”
Maka tidak terlalu mengejutkan jika kita berpendapat bahwa
rahasia kesuksesan organisasi sesungguhnya terletak pada
kekuatan spiritualitasnya. Tanpa spiritualitas, tanpa roh, maka
organisasi akan cepat mati. Dalam upaya maha besar memulihkan
ekonomi republik tercinta, yang juga berarti membangun
kembali vitalitas dunia bisnis kita, maka spiritualitas bisnis
merupakan sebuah keharusan. Pada aras lain, untuk menjaga
keutuhan republik ini agar tidak dipahami disintrgrasi (baca :
kematian) maka spiritualitas dalam segenap aspek kehidupan
berbangsa dan bernegara patut pula dianggap sebagai sentral
dari usaha tersebut. Akhirnya, selamat menjalankan spiritualitas
bisnis. U
Senin, 07 Januari 2008
Langganan:
Komentar (Atom)